Inti dari Sedekah, Bukanlah Soal Uang

Gambar

Banyak para dai mengatakan bahwa “bersedekahlah kamu, niscaya Allaah akan menambah rezeki mu”.
Terus, banyak orang jadi bertanya-tanya, “kalo saya orang miskin dan tak punya apa-apa, saya sedekah apa?”

Para pembaca yang budiman, bahasa agama tidak bisa kita artikan secara keilmuan yang sederhana. Perlu seorang manusia dengan tingkat intelektual yang melebihi seorang professor. Perlu seorang filsuf dengan pemikiran mendalam yang dapat mentafsirkan bahasa agama. Seperti para Imam besar, ahli tafsir Bpk. Qurais Shihab, dll. Dan kita ketahui bersama, Rasulullah SAW memiliki tingkat intelektual yang sangat tinggi. Kita harus menggunakan akal kita secara lebih extra untuk mengungkapakan maksud dari bahasa agama, baik di dalam Al Quran atau Al Hadist. Seperti yang akan kita bahas di sini mengenai inti dari sedekah.

Sedekah, saat ini masih dianggap sebagai suatu tindakan mengeluarkan/mendonasikan/menyumbangkan sebagian kecil harta secara ikhlas dengan mengharapkan ridha Allaah SWT dan berupaya agar tidak diketahui oleh orang lain (riya). Memang sebagian orang yang menggunakan nalarnya akan merasa sedikit “aneh”, kok bisa kita ngasih sedikit uang trus bisa baliknya dapat lebih?. Dapat dari mana? Kalo kita berpikir seperti itu memang benar kita akan mendapati kebuntuan. Tetapi kita meyakini hal itu dan tetap untuk berusaha menangkap pesan dari kalimat “bersedekahlah kamu, niscaya Allaah akan menambah rezeki mu”.

Pertanyaan saya saat ini adalah, “kenapa sampai saat ini orang-orang bila mendengar kata sedekah, pikirannya langsung menuju pada sumbangan uang yang ada di kotak-kotak amal di mesjid? Yang ada di pinggir jalan untuk pembangunan tempat ibadah atau perbaikan jalan? Kepada para pengemis, anak yatum piatu, dsb. Kenapa hanya terbatas pada disitu? Hanya terbatas pada sekedar memberi uang. Memang benar itu tidak salah, tapi pemikiran terbatas seperti itu akan melahirkan anak masalah berupa pertanyaan “kalo saya orang miskin dan tak punya apa-apa, saya sedekah apa?”. Betul khan? Dan ini memang wajar.

Mari kita coba cari jalan keluarnya. Dimulai dengan mengartikan arti kata sedekah. Semula makna sedekah adalah memberi sumbangan dalam bentuk uang, menjadi “sebuah tindakan untuk kepentingan orang lain”. Bisa juga kita tambahkan “sebuah tindakan untuk menyenangkan hati orang lain”. Atau “untuk memudahkan orang lain”. Kalau sudah terkumpul beberapa makna lain dari sedekah, maka kita bisa menarik kesimpulan yang lebih luas tentang sedekah. Ya, memberi uang dengan niat sedekah otomatis termasuk dalam kegiatan “menyenangkan/memudahkan kepentingan orang lain” juga. Nah, kalau hanya untuk menyenangkan/memudahkan orang lain saja, apakah harus selalu dengan uang? Tentu saja tidak. Anda bisa menyenangkan hati keluarga anda dengan memberikan rezeki yang halal, kesehatan, dan pendidikan yang baik. Dengan menjaga keharmonisan di rumah seperti menciptakan suasana yang nyaman. Seorang ibu bisa menjaga kesehatan seluruh anggota keluarganya dengan menjaga kebersihan rumah, ibu itu kerjanya hanya menyapu, mengepel lantai, memberesksn kamar tidur, melakukan 3 M untuk mrncegah demam berdarah, terlihat seperti rutinitas biasa tetapi dampaknya cukup besar. Lain hal dengan seorang pekerja, dia selalu berusaha agar bisa membantu orang lain baik di dalam lingkungan kerjanya ataupun di luar ruang lingkup kerjanya. Bahkan seorang pengangguran, dia bersedia mendatangi sebuah toko, perusahaan, atau tempat-tempat proyek hanya untuk membantu urusan si pemilik dengan segala kekuatan yg bisa diberikannya agar proyek/usaha orang lain menjadi lebih cepat berkembang. Seorang cendikiawan semisal mahasiswa/ pelajar, dosen, atau tokoh masyarakat memberikan sebuah solusi dari problema-problems yang ada di masyarakat melalui forum diskusi ataupun media massa. Sehingga kehidupan di masyarakat menjadi lebih baik. Semua itu hanya sebagian contoh kecil dari kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada kepentingan orang lain. Yang saat ini kita artikan sebagai sedekah. Contoh lain yang lebih sederhana, seperti senyum, menyapa, saling menghormati dan menghargai, bekerja dengan jujur, disiplin dan bertanggung jawab. Dengan melalukan hal-hal yang bisa memudahkan atau menyenangkan orang lain, apakah orang tersebut akan disukai atau dibenci? Saya belum pernah tuh mendengar ada orang yang membenci seseorang karena dia merasa dibantu oleh orang tersebut. Bahkan, kalaupun orang itu memang membencinya, siapa yang nggak senang sih kalo sudah dibantu pekerjaannya? Hehee..

Bila seseorang sudah merasakan manfaat dari “sedekah” kita, apakah kita tidak akan dipanggilnya untuk bantu-bantu lagi? Bila manusia lain sudah senang dengan kita, apalagi Tuhan yang Maha Penyayang, pasti lebih suka dengan kita. Dan bila kita bisa mempertahankan “sedekah” kita dengan baik dan terus lebih baik dengan hati ikhlas mau belajar memperbaiki kualitas “sedekah” (kerja) kita, niscaya kita akan diberi imbalan langsung oleh orang/perusahaan/proyek yang sudah kita bantu. Apakah hal ini tidak akan menambah rezeki kita dalam waktu yang sudah ditetapkan dan dijanjikan Allaah? Karena itulah kita pernah mendengar kata-kata bijak seperti “cara tercepat untuk menjadi pintar adalah dengan membuat orang lain jadi lebih pintar”. “cara tercepat untuk menjadi sukses, adalah dengan membuat orang lain menjadi lebih sukses”.

Para pembaca yang budiman, dengan memahami makna sedekah dengan cara yang berbeda, kita bisa sadari bahwa sedekah itu berbeda dengan zakat. Sedekah bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Sedangkan zakat memiliki waktu tertentu.

Jadi, apakah kita sudah sampai pada kesimpulan tentang makna sedekah? Yaitu dengan memberikan yang kita punya;seperti uang, tenaga, pikiran, keahlian/bakat, ilmu, dan waktu, untuk kepentingan orang lain/lembaga/perusahaan? Mohon maaf saudara-saudara, kesimpulan kita belum selesai sampai di situ. Karena untuk membantu orang lain dengan baik (sedekah) itu ada akarnya, yaitu NIAT YANG IKHLAS, dan MENJAUHI RASA MALAS UNTUK BEKERJA. Dengan hati ikhlas, apapun yang kita lakukan walaupun berat dan stressful, hati yang ikhlas sudah diberi jaminan oleh Allaah untuk tidak akan merasa susah atas apapun yang dibebani oleh jiwa dan raga. Sehingga sedekah kita terasa ringan. Sungguh kehidupan ini sangat singkat, jangan sampai hari demi hari kita lalui hanya dengan ketidaknyamanan hidup di hati kita.

Kalau kita harus menjauhi rasa malas, itu sudah jelas. Bagaimana bisa orang mau bersedekah sesuatu kalau dia malas? Jangankan bersedekah untuk orang lain, bersedekah untuk diri sendiri aja tidak jalan. Sedekah untuk diri sendiri bisa kita lakukan seperti menjaga kebersihan tubuh kita dengan mandi 2 kali sehari dan memakai wangi-wangian, menjaga kesehatan kita dengan menjaga pola makan dan berolah raga, menjaga pikiran kita agar tidak tumpul dengan membaca buku, dan menjaga hati dan iman kita dengan ber-istighfar, sholat, dan ibadah lainnya. Semua itu tidak akan bisa dilakukan karena terhalang rasa malas. Bagi si pemalas, silahkan jawab sendiri pertanyaan ini : “mau sampai kapan Anda menjadi budaknya rasa malas?”. Na’uzubillaah.

Dengan demikian, inti dari sedekah sudah bisa kita gali dengan dalam. Sedekah adalah usaha yang bertujuan untuk membaikkan kepentingan orang lain. Sedekah bisa berupa apa saja seperti uang, tenaga, pikiran, keahlian/bakat, ilmu, dan waktu. Sedekah tidak akan memberi beban yang berat kepada pribadi-pribadi yang sudah dijaga oleh Allaah, yaitu pribadi dengan hati yang ikhlas. Dan sedekah tidak akan mampu dilaksanakan oleh orang-orang yang malas. Selain itu, kepentingan orang lain yang kita bantu tentu saja BUKANLAH kepentingan-kepentingan yang negatif, seperti tindak kriminal, penipuan, peredaran narkoba, korupsi, dsb. Jadi, makna dari “bersedekahlah kamu, niscaya Allaah akan menambah rezeki mu”, sama saja dengan “janganlah kamu malas untuk menyumbangkan apa yang bisa kamu berikan untuk membaikkan/mempermudah kepentingan orang lain dengan hati yang ikhlas, niscaya Allaah juga akan mempermudah rezekimu”. Dengan demikian, sedekah bisa dilakukan oleh siapa saja termasuk orang (yang merasa) miskin, kapan saja dan dimana saja.

Siapapun Anda, apapun profesi dan pekerjaan halal Anda, Anda sedang bersedekah dan membuat Tuhan tersenyum pada Anda. Karena Allaah SWT Maha Melihat dan tidak tidur, Dia pasti akan memberikan ganjaran yang sesuai kepada para penyedekah yang baik, karena para penyedekah itu pantas untuk mendapat kehidupan yang sejahtera di dunia dan di akhirat.

Sedekah dan zakat adalah solusi keuangan terbaik dan memberikan kedamaian jiwa. Wassalam.

A. Fuad Bachsin

fuadbahsin.wordpress.com

Tentang Said Fuad Bachsin

Nice to meet you all... :)
Tulisan ini dipublikasikan di About Me. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s